Konsep Motivasi
Menurut
Sardiman (1986: 73), motivasi berasal dari kata motif yang diartikan sebagai
daya pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi diartikan sebagai
daya penggerak yang telah aktif.
Pengertian
motivasi adalah kehendak yang mendorong upaya ketingkat tertinggi dalam
mencapai tujuan organisasi, di dorong kemampuan organisasi memuaskan kebutuhan
individu anggotanya (Hamdan Mansoer, 1989:361). Motivasi bisa diartikan
kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil
suatu tindakan yang dikehendaki (Onang Uhjana, 1987:69), motivasi juga berarti
pemberian daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai bekerja
dengan segala daya dan upayanya (Manullang, 1993:120).
Motivasi adalah
karakteristik psikologis manusia
yang memberi kontribusi
pada tingkat komitmen
seseorang. Hal ini
termasuk faktor- faktor
yang menyebabkan, menyalurkan,
dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu
(Nursalam, 2008). Motivasi adalah
proses kesediaan melakukan usaha
tingkat tinggi untuk
mencapai sasaran organisasi
yang dikondisikan oleh kemampuan usaha tersebut untuk memuaskan kebutuhan
sejumlah individu. Meskipun secaraumum motivasi
merujuk ke upaya yang dilakukan guna mencapai
setiap sasaran, disini kita merujuk ke sasaran organisasi karena fokus
kita adalah perilaku yang berkaitan
dengan kerja (Robbins & Coulter, 2007).
Berdasarkan
pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah
pekerjaan yang memberikan dorongan atau rangsangan kepada karyawan agar bekerja
dengan giat dan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Teori Motivasi:
a. Teori-Teori
Awal Tentang Motivasi :
1) Teori
Hierarki Kebutuhan Maslow ( Teori
defisiensi)
Teori motivasi
yang paling dikenal
mungkin adalah Teori Hierarki Kebutuhan
Abraham Maslow. Maslow
adalah psikolog humanistik
yang berpendapat bahwa pada diri tiap orang terdapat hierarki lima kebutuhan yakni:
a) Kebutuhan
fisik: makanan, minuman, tempat tinggal,
kepuasan seksual, dan kebutuhan fisik lain.
b) Kebutuhan
keamanan: keamanan dan perlindungan dari gangguan fisik dan emosi, dan juga kepastian bahwa
kebutuhan fisik akan terus
terpenuhi.
c) Kebutuhan
sosial: kasih sayang, menjadi bagian dari
kelompoknya, diterima oleh teman-teman, dan persahabatan.
d)
Kebutuhan harga diri:
faktor harga diri
internal, seperti penghargaan
diri, otonomi, pencapaian
prestasi dan harga
diri eksternal seperti status,
pengakuan, dan perhatian.
e)
Kebutuhan aktualisasi diri: pertumbuhan,
pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri;
dorongan untuk menjadi apa yang dia
mampu capai.Menurut Maslow, jika ingin memotivasi seseorang kita perlu memahami ditingkat mana keberadaan orang itu
dalam hierarki dan perlu berfokus pada
pemuasan kebutuhan pada atau diatas tingkat itu
(Robbins & Coulter, 2007).
2) Teori X dan Y McGregor
Douglas
McGregor terkenal karena rumusannya tentang dua
kelompok asumsi mengenai
sifat manusia: Teori
X dan Teori
Y. Teori X pada dasarnya
menyajikan pandangan negatif tentang orang.
Teori X berasumsi bahwa para pekerja mempunyai sedikit ambisi untuk maju, tidak menyukai pekerjaan, ingin
menghindari tanggung jawab, dan perlu
diawasi dengan ketat agar dapat efektif bekerja.
Teori Y menawarkan pandangan positif. Teori Y
berasumsi bahwa para pekerja dapat
berlatih mengarahkan diri, menerima dan secara
nyata mencari tanggung
jawab, dan menganggap
bekerja sebagai kegiatan
alami. McGregor yakin
bahwa asumsi Teori
Y lebih menekankan sifat pekerja sebenarnya dan harus
menjadi pedoman bagi praktik manajemen (Robbins &
Coulter, 2007).
3) Teori Motivasi Higienis Herzberg
Teori ini
menyatakan bahwa kepuasan
dan ketidak-puasan seseorang dipengaruhi oleh dua kelompok
faktor independen yakni faktor-faktor penggerakan
motivasi dan faktor-faktor
pemelihara motivasi. Menurut
Herzberg, karyawan memiliki rasa kepuasan kerja
dalam pekerjaannya, tetapi faktor-faktor yang menyebabkankepuasan
berbeda jika dibandingkan dengan faktor-faktor ketidak- puasan
kerja. Rasa kepuasan
kerja dan rasa
ketidak-puasan kerja tidak berada dalam satu kontinum. Lawan dari
kepuasan adalah tidak ada kepuasan kerja
sedangkan lawan dari ketidakpuasan kerja adalah
tidak ada ketidak-puasan kerja (Robbins, 2003). Faktor-faktor
yang merupakan penggerak
motivasi (faktor- faktor intrinsik) ialah:
a) Pengakuan
(cognition), artinya karyawan memperoleh pengakuan dari pihak perusahaan bahwa ia adalah orang,
berprestasi, baik, diberi penghargaan,
pujian, dimanusiakan, dan sebagainya.
b)
Tanggung jawab (responsibility), artinya
karyawan diserahi tanggung
jawab dalam pekerjaan
yang dilaksanakannya, tidak hanya
semata-mata melaksanakan pekerjaan.
c) Prestasi
(achievement), artinya karyawan memperoleh
kesempatan untuk mencapai hasil yang baik atau berprestasi.
d)
Pertumbuhan dan perkembangan (growth
and development), artinya dalam setiap pekerjaan itu ada
kesempatan bagi karyawan untuk tumbuh
dan berkembang.
e) Pekerjaan
itu sendiri (job it self), artinya memang pekerjaan yang dilakukan itu sesuai dan menyenangkan bagi
karyawan. Adapun faktor-faktor pemelihara
motivasi (faktor-faktor
ekstrinsik)
ialah:
a) Gaji
(salary) yang diterima karyawan
b) Kedudukan
(status) karyawan
c)
Hubungan antar pribadi
dengan teman sederajat,
atasan atau bawahan
d) Penyeliaan
(supervisi) terhadap karyawan
e) Kondisi
tempat kerja (working condition)
f) Keselamatan kerja (job safety)
g) Kebijakan
dan administrasi perusahaan, khususnya dalam bidang personalia
b. Teori
Motivasi Modern:
Teori
Pengharapan
Teori ini
menyatakan cara memilih
dan bertindak dari berbagai
alternatif tingkah laku, berdasarkan harapannya apakah ada keuntungan yang diperoleh dari tiap tingkah
laku. Teori pengharapan berpikir atas
dasar:
a) Harapan
hasil prestasi
Individu mengharapkan
konsekuensi tertentu dari
tingkah laku mereka.
Harapan ini nantinya
akan mempengaruhi keputusan
tentang bagaimana cara mereka bertingkah laku.
b) Valensi
Hasil dari
suatu tingkah laku
tertentu mempunyai valensi
atau kekuatan untuk
memotivasi. Valensi ini
bervariasi dari satu individu
ke individu yang lain.
c) Harapan
prestasi usaha
Harapan orang
mengenai tingkat keberhasilan
mereka dalam melaksanakan
tugas yang sulit
akan berpengaruh pada
tingkah laku. Tingkah
laku seseorang sampai
tingkat tertentu akan tergantung
pada tipe hasil yang diharapkan (Nursalam, 2007). Kunci teori pengharapan adalah memahami
sasaran seseorang dan kaitan antara
usaha dan kinerja, antara kinerja
dan imbalan, dan
akhirnya antara imbalan
dan kepuasan kerja
orangtersebut. Teori ini menekankan hasil atau imbalan. Akibatnya,
kita harus berkeyakinan bahwa imbalan
yang ditawarkan oleh organisasi itu sesuai
dengan keinginan individu
tersebut. Teori pengharapan
menyatakan bahwa tidak
ada prinsip universal
yang mampu menjelaskan
apa yang memotivasi
individu dan karena
itu menekankan bahwa
para manajer harus
memahami mengapa karyawan
melihat hasil tertentu
menarik atau tidak
(Robbins & Coulter, 2007).
Dewasa ini,
salah satu penjelasan yang paling meluas diterima, baik mengenai motivasi
adalah teori harapan (expectancy theory) dari Victor Vroom, meskipun ada pengritiknya,
namun kebanyakan bukti riset mendukung teori tersebut (Robins, 1996 : 215).
Teori pengharapan berakar pada konsep-konsep kognitif yang dikemukakan oleh
para psikolog terutama Kurt Lewin dan Edward Talmani. Teori ini diperkenalkan
oleh Victor Vroom pada tahun 1964, individu diasumsikan sebagai pembuat
keputusan yang rasional yang mengevaluasi alternatif tindakan dimana
masing-masing alternatif akan berkaitan dengan penghargaan yang diharapkan
individu menilai informasi yang tersedia bagi mereka dan membuat keputusan
menurut nilai konsekuensi dan kemungkinan pribadi untuk mencapai apa yang
mereka sukai. Dalam istilah praktis, teori pengharapan menyatakan bahwa seorang
karyawan di motivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia
meyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik.
Perbedaan
penyelia dan pegawai mengenai apa yang memotivasi pekerja:
Menurut Nursalam
(2008), terdapat beberapa
prinsip dalam memotivasi kerja pegawai yaitu:
1) Prinsip
partisipatif
Dalam upaya
memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan
yang akan dicapai oleh pemimpin.
2) Prinsip
komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala
sesuatu yang berhubungan
dengan usaha pencapaian
tugas. Dengan informasi
yang jelas, pegawai akan lebih mudah dimotivasi
kerjanya.
3) Prinsip
mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui
bahwa bawahan (pegawai)
mempunyai andil didalam
usaha pencapaian tujuan.
Dengan pengakuan tersebut,
pegawai akan lebih mudah dimotivasi kerjanya.
4) Prinsip
pendelegasian wewenang
Pemimpin akan
memberikan otoritas atau
wewenang kepada pegawai bawahan untuk sewaktu-waktu dapat
mengambil keputusan terhadap pekerjaan
yang dilakukannya, akan
membuat yangbersangkutan menjadi
termotivasi untuk mencapai
tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.
5) Prinsip
memberi perhatian
Pemimpin memberikan
perhatian terhadap apa
yang diinginkan pegawai
bawahannya, sehingga bawahan akan
termotivasi bekerja sesuai dengan harapan pemimpin.
Sedangkan menurut
Menurut Payaman J.Simanjuntak (2005,94-97), memotivasi bawahan berarti
menjadikan mereka merasakan bahwa bekerja sebagai bagian hidup yang dinikmati.
Para pekerja pada umumnya akan siap bekerja keras bila menghadapi beberapa
kondisi berikut ini:
1. Merasa diperlukan oleh organisasi
2. mengetahui yang diharapkan organisasi
3. perlakuan adil antar pekerja dan dalam pemberian imbalan
4. peluang untuk berkembang
5. tantangan yang menarik
6. suasana kerja yang menyenangkan
1. Merasa diperlukan oleh organisasi
2. mengetahui yang diharapkan organisasi
3. perlakuan adil antar pekerja dan dalam pemberian imbalan
4. peluang untuk berkembang
5. tantangan yang menarik
6. suasana kerja yang menyenangkan
Menurut F.
Herzberg dalam Simon Devung (1989:106) ada dua faktor utama di dalam organisasi
(faktor eksternal) yang membuat karyawan merasa puas terhadap pekerjaan yang
dilakukan, dan kepuasan tersebut akan mendorong mereka untuk bekerja lebih baik,
kedua faktor tersebut antara lain:
1.
Motivator
Motivator
adalah prestasi kerja, penghargaan, tanggung jawab yang diberikan, kesempatan
untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya itu sendiri.
2.
Faktor kesehatan kerja
Faktor
kesehatan kerja merupakan kebijakan dan administrasi perusahaan yang baik,
supervisi (penyelia) teknisi yang memadai, gaji yang memuaskan, kondisi kerja
yang baik dan keselamatan kerja.
Teori Persepsi
Pengertian
Persepsi
Terbentuknya
persepsi dimulai dengan pengamatan yang melalui proses hubungan melihat,
mendengar, menyentuh, merasakan, dan menerima sesuatu hal yang kemudian
seseorang menseleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasikan informasi yang
diterimanya menjadi suatu gambaran yang berarti. Terjadinya pengamatan ini
dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan sikap seseorang dari individu. Dan
biasanya persepsi ini hanya berlaku bagi dirinya sendiri dan tidak bagi orang
lain. Selain itu juga persepsi ini tidak bertahan seumur hidup dapat berubah
sesuai dengan perkembangan pengalaman, perubahan kebutuhan, dan sikap dari
seseorang baik laki-laki maupun perempuan.
Menurut Philip Kotler (Manajemen Pemasaran, 1993, hal 219): Persepsi adalah proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Persepsi dapat diartikan sebagai suatu proses kategorisasi dan interpretasi yang bersifat selektif. Adapun faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah katakteristik orang yang dipersepsi dan faktor situasional.
Menurut Philip Kotler (Manajemen Pemasaran, 1993, hal 219): Persepsi adalah proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Persepsi dapat diartikan sebagai suatu proses kategorisasi dan interpretasi yang bersifat selektif. Adapun faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah katakteristik orang yang dipersepsi dan faktor situasional.
Proses
Terbentuknya Persepsi
Proses
pembentukan persepsi diawali dengan masuknya sumber melalui suara, penglihatan,
rasa, aroma atau sentuhan manusia, diterima oleh indera manusia (sensory
receptor) sebagai bentuk sensation. Sejumlah besar sensation yang diperoleh
dari proses pertama diatas kemudian diseleksi dan diterima. Fungsi penyaringan
ini dijalankan oleh faktor seperti harapan individu, motivasi, dan sikap.
Sensation yang diperoleh dari hasil penyaringan pada tahap kedua itu merupakan input bagi tahap ketiga, tahap pengorganisasian sensation. Dari tahap ini akan diperoleh sensation yang merupakan satu kesatuan yang lebih teratur dibandingkan dengan sensation yang sebelumnya.
Tahap keempat merupakan tahap penginterpretasian seperti pengalaman, proses belajar, dan kepribadian. Apabila proses ini selesai dilalui, maka akan diperoleh hasil akhir berupa Persepsi.
Sensation yang diperoleh dari hasil penyaringan pada tahap kedua itu merupakan input bagi tahap ketiga, tahap pengorganisasian sensation. Dari tahap ini akan diperoleh sensation yang merupakan satu kesatuan yang lebih teratur dibandingkan dengan sensation yang sebelumnya.
Tahap keempat merupakan tahap penginterpretasian seperti pengalaman, proses belajar, dan kepribadian. Apabila proses ini selesai dilalui, maka akan diperoleh hasil akhir berupa Persepsi.
Faktor yang
Mempengaruhi Persepsi
Sekarang kita
juga akan mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Vincent
( Manajemen Bisnis Total, 1997, hal 35):
- Pengalaman masa lalu (terdahulu) dapat
mempengaruhi seseorang karena manusia biasanya akan menarik kesimpulan
yang sama dengan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.
- Keinginan dapat mempengaruhi persepsi
seseorang dalam hal membuat keputusan. Manusia cenderung menolak tawaran
yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
- Pengalaman dari teman-teman, dimana mereka
akan menceritakan pengalaman yang telah dialaminya. Hal ini jelas
mempengaruhi persepsi seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar